'My Birth story' Nikmat luar Biasa dari Allah SWT.
My Birth Story; Nikmat Luar Biasa dari Allah SWT.
My Birth Story ini merupakan rangkaian proses perjuangan yang tidaklah mudah. Januari 2016, bertepatan dengan bulan kelahiran saya, Allah memberi kado spesial dengan menitipkan benih calon bayi bagi kami. Luar biasa bahagianya kami saat itu. Sebagai pasangan suami istri junior, yang masih minim ilmu tentang parenting dan kehamilan, saya dan suami bertekad untuk menjaga amanah dari Allah SWT, dengan terus belajar dan belajar. Memperbanyak referensi bacaan berupa, buku-buku tentang kehamilan, konsultasi kepada tenaga medis (dokter dan bidan), guru kami (Kyai Muhammad Isyroqun Najach dan Kyai Kholis di bondowoso),kerabat, serta kolega yang telah memiliki buah hati. Setiap pengalaman yang didapat, kami ambil sisi positifnya. Termasuk bagaimana menanggapi mitos-mitos yang beredar di masyarakat,tentang kehamilan dan persalinan.
Berawal dari rasa penasaran terhadap RBR (Rumah Bidan Rina), pada tanggal 10 Februari 2016, saya didampingi suami memeriksakan kehamilan. Bidan Rina, sosok yang supel dan easygoing, penuh perhatian, seperti saya berhadapan dengan ibu sendiri.Selalu terngiang pesan dari beliau, “Orang hamil itu bukan orang sakit lhoo yaaa, jadi tetap beraktivitaslah dengan semangat”. Dan, it works! Sepulang dari periksa, mual-mual pun tak terasa menyiksa.
Hampir setiap bulan, tak sabar rasanya ingin melihat calon bayikami di RBR.Setiap kali periksa kehamilan, beliau selalu memberi nasihat dan semangat serta ilmu baru. Saya pun terpacu untuk terus belajar, agar menjadi ibu hamil yang baik dan bijak.Tanggal 3 Mei 2016, Alhamdulillah, calon bayi kami sudah berusia 121 Hari (hari dimana ditiupkan ruh pada janin dalam perut si ibu). Tak lama berselang,Subhanaallah, Alhamdulillah, saya bisa merasakan calon bayi kami bergerak-gerak di dalam perut, ditambah lagi ketika kami mengajak berkomunikasi.
Pengalaman puasa ketika hamil, tepatnya saat usia kehamilan 22 week, rasanya perut nano-nano ketika calon bayi kami juga turut belajar berpuasa. Alhamdulillah, selama kehamilan saya tidak merasakan sakit yang terus-menerus, hanya terserang mata merah saat usia kehamilan menginjak 7 bulan. Hal ini disebabkan kelehahan dalam aktivitas sehari-hari dan ditambah lagi kondisi mata saya yang minus. Mitos yang beredar, “orang minus sulit untuk bisa lahir normal”, namun tidak menyurutkan semangat saya untuk meyakinkan diri saya bisa lahiran normal. Karena yang saya tanamkan dalam pikiran dan hati saya adalah”Allah yang menitipkan janin ini di perut saya, pasti Allah juga yang akan mengeluarkannya dengan nikmat Nya”.
Menginjak bulan ke delapan, saya memeriksakan kehamilan pada Dokter Spesialis Kandungan, dikarenakan Rumah Bidan Rina tutup kala itu. Namun, sepulang periksa, ada sedikit kekecewaan saya terhadap statement Dokter. Menurut hasil pemeriksaan sebelumnya, calon bayi kami dalam keadaan sehat dan normal. Kemudian dikarenakan waktu itu berat calon bayi kami mencapai 2,7 kg dan dibandingkan dengan tinggi badan saya yang tidak terlalu tinggi hihihihi. Dokter langsung memvonis saya dengan kata-katanya “Kalau BB calon bayinya mencapai 3kg atau bahkan lebih, kemungkinan kecil lhoo yaaa untuk bisa lahir normal dan kemungkinan besar SC”. Kata-katanya “mak jleb” membuat saya sedikit tertekan. Karena selain belum ada persiapan finansial untuk SC juga saya bukan tipe orang yang suka disuntik, hehehe.
9 bulan usia kehamilan pun tiba. Saya semakin intens memeriksakan kehamilan di Bidan Rina. Jadwal kontrol yang awalnya dua minggu sekali, menjadi seminggu sekali.Insya Allah atas kehendak Allah, HPL pada tanggal 12 Oktober 2016 (Bisa jadi maju atau mundur, kita ndak tahu, terserah yang membuat SK lahir ‘read:Allah” tutur Bidan Rina). Awal Oktober, saya sudah mengajukan cuti, karena ingin benar-benar fokus untuk belajar mempersiapkan kelahiran calon bayi kami. Saya dan suami mulai mengisi Birth Plan Form dari RBR, melaksanakan anjuran treatment yang harus dilakukan menjelang persalinan.Pada tanggal 10 Oktober (4 hari sebelum kelahiran) dini hari, saya sudah merasakan ‘gelombang cinta’ datang menyapa. Rasanya nikmat luar biasa, perut rasanya kenceng-kenceng dan kaku. Saking senengnya, saya dan suami mengira calon bayi kami akan lahir hari itu juga, apalagi hari itu hari Senin (sebenarnya saya ingin adek lahir di hari Senin atau Kamis supaya nyaman kalau “Muasai dan nyelamati ‘hihihihi PEDE bener yaa).
Pagi hari, penuh semangat, jam 06.15 wib kami berangkat periksa ke RBR, sesampainya disana pagar RBR belum dibuka (karena memang belum jam 8,hehehe). Saya dan suami sudah membawa serta satu tas yang berisi perlengkapan lahiran dan baju-baju bayi yang sudah kami siapkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pede-nya kami masuk RBR, dan mulai dicek dalam oleh @Bidan Hida.Setelah diperiksa, Bidan Rina menyampaikan “Masih Awal Mau Bukaan 1”,hihi. Dibuat Jalan-jalan saja dulu, ke Mall atau kemana gitu, biar cepet bukaannya”.
Akhirnya saya berjalan-jalan ke tempat tinggal saudara di daerah Gasek, Karang Besuki-Malang, dengan jalan kaki di tanjakan hingga tiba di rumah saudara, sementara suami saya mengikuti dari belakang dengan motornya. Ketika gelombang cinta datang, saya harus berhenti dan tetap tersenyum dan rileks seperti pesan Bidan Rina, Bidan Hida dan Bidan Mita. Sesekali saat saya berhenti berjalan, ada saja ibu-ibu yang lewat menyapa dan bertanya, dikira saya kesakitan dan butuh bantuan,saya jawab dan tanggapi dengan senyum “Mboten nopo2 bu, niki jalan-jalan santai aja kok Bu”. Finally, Alhamdulillah, saya berhasil sampai dirumah saudara dengan jalan kaki, yeyeyeeye. Sesampainya, saya beristirahat sebentar sebelum melanjutkan jalan-jalan lagi di kampung saudara dan pastinya tetap ditemani suami yang selalu siaga dan menyemangati saya.
Malam harinya kami kembali ke RBR dengan membawa tas paket persiapan lahiran saya yang ikut jalan-jalan juga seharian tadi. Setelah diperiksa dalam ternyata hasilnya masih sama“Mau awal pembukaan 1”. Saya sempat sedikit merasa down kala itu, dan lagi-lagi Bidan Rina dan tim menyemangati saya. Karena sudah malam, daripada balik pulang, saya dan suami memutuskan untuk menginap saja di RBR. Berhubung kamar inapnya sudah penuh,akhirnya malam itu kami tidur di ruang periksa.
Hari berikutnya tanggal 11 Oktober 2016,selepas shalat Shubuh, saya berjalan-jalan lagi disekitar perumahan dekat RBR hingga beberapa jam, sambil menikmati setiap gelombang cinta yang datang dengan terus tersenyum dan rileks dan sounding terus-menerus padacalon bayi kami “Adek, nanti kalau mau keluar yang sabar ge, yang sholihah yaaa naaak”.Sore harinya saya dan suami berlatih “Snapping” (Punten, kalau salah istilahnya…hihihi), agar suami juga bisa berperan dengan menggunakan jarik dan gerakan-gerakan yang membantu mempercepat kontraksi secara alami tanpa disuntik tentunya. Malamnya, saya pun masih lanjut dengan jalan-jalan bersama suami yang selalu setia menemani. Dan setelah diperiksa dalam lagi, “Alhamdulillah, sudah masuk bukaan 1 tapi masih tinggi kepala bayinya, ucap Bu Bidan. Saya semakin bersemangat, kemudian saya bermain birthing Ball, hingga saya pun ketiduran. Pengalaman berjalan-jalan menjelang persalinan ini membuat saya geli saat mengingatnya. Lucu dan menggemaskan!.
Keesokan harinya tanggal 12 Oktober 2016, aktivitas rutindi pagi hari setelah shubuh, saya jalan-jalan dengan membawa air madu di botol, namun suami tidak bisa menemani karena harus menjemput Ibu saya yang keukeuh ingin menemani saya lahiran di RBR. padahal saya sudah meyakinkan Ibu nyuwun saya dido’akan dan menunggu di rumah saja, nanti jika sudah lahiran saja kesininya, mboten perlu khawatir, disini bidannya telaten dan ramah. Namun ibu tetap dengan pendiriannya, ingin dijemput dan menemani saya (begitulah seorang ibu, sampai kapanpun tidak akan tega meninggalkan anaknya berjuang melahirkan tanpa didampingi olehnya).
Malam harinya, sayapun di “Terapi Moksa(terapi pijat kaki di titik-titik yang merangsang kontraksi menggunakan tumbuhan moksa dari jepang). Begitu terapi selesai, gelombang cinta yang saya rasakan begitu luar biasa, seolah calon bayi di dalam perut ingin segara keluar juga. Selanjutnya, kembali dilakukan periksa dalam,ternyata sudah bukaan 2.
Alhamdulillah, ada hasilnya di terapi moksa tadi. Pagi hari setelah Shubuh, kembali saya berjalan-jalan disekitar perumahan dan minum air madu untuk menambah tenaga. Seperti biasa setelah jalan-jalan, sarapan diantar ke kamar saya. Mendadak selera makan saya menurun(padahal itu menu kesukaan saya, soto ayam,hehehe). Tapi tetap suami dan ibu terus membujuk saya harus makan, agar nanti kalau sudah bukaan lengkap itu ada tenaga untuk mengejan.
Sore harinya, Bidan Rina memeriksa saya, Finally Bukaan 4. Bidan Rina senang sekali “Lhaaaaa,,,ini yang tak tunggu-tunggu, kemarin kan mbak Hida datang kesini masih belum bukaan 1, ini sudah bagus ini gelombang cintanya mau melahirkan ini, ayo lebih semngat lagi, sebentar lagi mau ketemu calon bayinya”. Alhamdulillaaah, suami dan ibu turut senang mendengarnya. Gelombang Cinta yang saya rasa saat itu rasanya memang cukup sakit, namun ketika saya lebih rileks dan tersenyum rasanya lebih nikmat dibanding hari sebelumnya. Apalagi waktu itu, sambil dengarkan ‘Gentle Birth affirmation’ ditambah lagi murottal yang merdu, Subhanallah,…saking nyamannya, saya sempat tertidur, padahal gelombang cinta datang dan pergi waktu itu, hihihi.
Malam hari sekitar jam 23.30 saya diperiksa dalam lagi, Alhamdulillaah, sudah bukaan 8, sedikit lagi sudah lengkap. Bidan Mita, tetap setiamenunggui disamping tempat tidur saya, sambil sesekalitertidur karna kantuknya. Pukul 00.30 bukaan pun lengkap, sayapun berjalan ke ruang bersalin, dibantu suami dan Bidan Mita. Setelah shalat malam, ibu juga ikut menemani persalinan saya. Inilah saat yang ditunggu-tunggu, perjuangan saya dan calon bayiakan mencapai puncaknya. Sambil mendengarkan dengan seksama instruksi dari Bidan dan Hicks dari calon bayiyang mau keluar, saya makan kurma dan minum air terus agar bertenaga saat menejan nanti.
Ketika hicks datang, saya dan calon bayibersama-sama berjuang mendorong berusaha keluar. Saat letih, Bidan memberi saya kesempatan untuk pindah posisi yang senyaman mungkin. Akhirnya yaaa,,ganti-ganti posisi (hehehe,,ga tahu posisi apa aja yaaa,,,sempat pake ‘Nut ball, semacam birthing ball mirip kacang besar) juga. Ketika saatnya ingin mengejan, saya pegang dengan lembut tangan suami di kanan saya sambilsenyum dan berusaha tetap rileks dan sounding pada calon bayidi perut saya “Terimakasih yaa naaak,,sudah mau keluar, silahkaaaan,,, ummi sudah siap,,,ayoo naaak,,sholihah,,pinter,,”. Again, It works! Sugesti positif berpengaruh sekali, calon bayirasanya semakin ingin segera keluar. Rasanya tidak terlalu sakit lho, namun sebaliknya kalau saya tegang malah semakin sakit.
Entah sudah mengejan ke berapa kalinya, kepala calon bayi kami sudah terlihat. Alhamdulillah, tinggal sedikit lagi. Sayup-sayup, terdengar ’Bu Bidan menyemangati “Ayoo mbak Hida,..semangat dorong dengan sekuat tenaga mbaak. Di sela-sela itu saya terus makan kurma dan minum air walaupun tidak terlalu banyak, tetapi cukup menambah tenaga saya. Ibu yang berada di sebelah kiri saya dan suami di sisi kanan terusmembantu dan menyemangati saya. Berkat doa dari semuanya,Alhamdulillah, tepat saat adzan Shubuh jam 04.01 WIB, hari Jum’at, tanggal 14 Oktober 2016, lahirlah putri kami yang imut dan bulat (kayak ibu waktu itu, kata Bidan Rina,hehehe. Bayi yang ‘Sabar’ keluarnya pelan-pelan tapi pasti, sesuai dengan sounding saya selama dalam perut,hehehe.
Setelah bayi kami lahir, seketika itu juga langsung diselimuti handuk dan ditempelkan badannya ke badan saya selama kurang lebih 30 menit, dilanjut proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini) selama kurang lebih 2 jam. Subhanallah,,,dengan buliran air mata bahagia, saya mendekap bayi mungil itu. Proses selanjutnya adalah pemotongan tali pusar “Delayed Cord Clamping dilanjut dengan memandikan bayi kami. Yang tak kalah menyenangkan adalah Emaknya juga ikutan mandi, hehehe dan dilanjut terapi buat body spa dari ujung rambut sampe ujung kaki, juga luluran di sore harinya.
Bayi mungil kami ini bernama ‘Sayyidah Hafshah Putri Taufiq’. Doa dan harapan kami adalah semoga puteri kami bisa meneladani salah satu istri nabi “Sayyidah Hafshah Binti Umar Bin Khattab’, wanita pertama yang hafal Al Qur’an dan menjaga Al Qur’an. Semoga kesholihannya juga menurun pada baby Hafshah kami, Amiiinn. Kelahirannya juga menjadi kado terindah untuk kami di Bulan Muharram ini. Bulan Islam pertama yang ditetapkan oleh Sayyidina Umar Bin Khattab Ayahanda Sayyidah hafshah. Subhanallaahhh,semua memang sudah diatur sedemikian indah dan sempurna dengan hikmahnya oleh ALLAH SWT. Syukron Yaa Rabb...
Alhamdulillaaaaahhh, saya pun lega dan bahagia bukan main. Ternyata beberapa cerita mengerikan dan menyakitkan tentang persalinan tidak semuanya kita rasakan kalau kita bisa menikmatinya dengan lebih tenang dan rileks. Alhamdulillah, dengan bimbingan timRBR saya bisa merasakannya, ‘gentle birth’, persalinan yang paintless dan minim trauma. Apalagi Suami yang super-duper setia dan sabar menunggui persalinan saya. Orang tua di Pasuruan dan Bondowoso yang tak pernah putus mendoakan. Serta doa para kyai, Ustad/zah, keluarga, saudara dan teman-teman yang juga selalu mendoakan untuk kelancaran persalinan saya. Terimakasih, semoga Allah yang membalas beliau semua dengan beribu kebaikan. Amiin.
Kini, baby Hafshah telah menginjak usia 5,5 Bulan. Tak lama lagi waktu MP-ASI tiba. Sebagai ibu junior, saya masihterus belajar dan belajar dalam merawat dan mendidik amanah kamiini dengan baik. Terimakasih Bidan Rina dan tim RBR atas kesabaran dan energi positif yang telah diberikan.Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bisa membawa sedikit manfaat dan angin segar bagi semua calon ibu maupun ibu yang bersiap menghadapi persalinan.
#hypnobirthingmalang#gentlebirth#rumahbidanrina#birthstory
(Hidayatur Rohmah-Taufiq Indra Gunawan)




Komentar
Posting Komentar